Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 30 Mei 2014

“ASAH GERGAJI”



Refleksi penguatan budaya konstruktif
Oleh ; Roby Tri Wahyudi[1]

            Kehidupan kampus merupakan cerminan dari kumpulan orang-orang besar yang membangun sebuah peradaban. Filosofi berdirinya sebuah kampus merupakan suatu cita-cita luhur guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Tempat mengenal potensi dan bakat, tempat memunculkan jati diri, madrasah spiritualitas, sekolah sosial pembuka paradigma, dan laboratorium eksperimen dalam menciptakan kehidupan yang menyejahterakan. Kampus dengan segala latar belakang sejarah, visi dan misi yang dituangkan hendaknya mampu membawa peserta didik untuk lebih dapat melihat secara bijak bahwasanya perkembangan zaman menuntut setiap pelakunya untuk memiliki kapasitas yang baik dari setiap lapisan ilmu dan sendi-sendi norma yang berlaku, sehingga dapat menciptakan pribadi yang unggul dan beriman, cerdas lagi terampil, serta bijak juga penuh kasih.
            Fenomena yang unik dan membuat kita bertanya adalah budaya apa yang hendak tecermin dari kehidupan kampus yang hendak kita impikan dan dambakan. Apakah budaya itu hanyalah sebuah transfer ilmu saja, sekedar mengisi absen, masuk ke dalam kelas, mengumpulkan tugas, mengikuti ujian, membayar iuran belajar, lalu mendapatkan nilai? Apakah itu budaya yang hendak diciptakan? Mari kita cermati pengertian pendidikan yang mengatakan, “pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat dan kebudayaan”[2]. Pengertian tersebut mengharuskan kita untuk melihat & memahami realitas yang terjadi dewasa ini terlebih di negara kita, dimana persaingan global begitu ketat, pemenuhan akan kebutuhan manusia semakin terbatas, alat-alat pembantu penunjang kehidupan manusia makin dicari-cari dan kesenjangan sosial yang semakin tinggi antar daerah yang terjadi. Hal tersebut menjadikan proses pendidikan mengajak kita untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, dibutuhkan sesuai dengan kondisi zamannya, sehingga budaya yang harus diciptakan tentunya budaya yang menjadi jembatan untuk mengatasi berbagai ketimpangan dengan kemampuan kompetensi serta sensitifitas diri kita untuk saling menolong sangatlah dibutuhkan.
            Mahasiswa tentunya menjadi sandaran yang tepat karena merepresentasikan bentuk seorang pemuda yang tangguh yang dibutuhkan bangsanya, sebagaimana seorang tokoh besar berkata “Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dalam setiap pemikiran, pemuda adalah pengibar panji-panjinya[3]. Atas dasar kemampuan serta fase dan proses sebagai seorang pembelajar dalam kehidupannya, mahasiswa senantiasa dapat menciptakan budaya yang baik, yang lahir dari kemampuan membaca kondisi lingkungannya, diantaranya: Pertama, mahasiswa haruslah mencintai budaya membaca apapun jenis ilmu yang bersumber dari buku pelajaran, buku bacaan, koran, artikel, majalah, dll guna membantu menambah wawasan dalam berfikir. Kedua, mahasiswa mampu menuliskan ide-ide pemikiran dan terobosan baru dari hasil berfikirnya baik dalam bentuk tulisan, peralatan, benda, maupun sistem dan peraturan sebagai bentuk penawaran yang dapat diberikan kepada siapapun dilingkungannya. Ketiga, mahasiswa selalu dapat membuat forum-forum diskusi, ruang-ruang berbicara untuk mengekspresikan segala proses dari input membaca dan menulisnya untuk ditularkan kepada sesamanya dalam rangka membangun kehidupan yang baik, memindahkan dan mentransfer mimpi serta visi peradaban untuk tetap unggul dan terdepan sebagai pribadi yang baik, soleh dan berdaya guna.
            Pada akhirnya mahasiswa haruslah mampu memiliki budaya yang baik sebagai suatu bentuk kekuatan yang masif, yang diidentikan dengan seorang pemotong kayu yang paham bahwasanya kayu besar yang sulit dipotong bukan karena kayunya yang sangat kuat, melainkan ia jarang mengasah gergajinya sebagai satu senjata utama yang ia gunakan sebagai bagian dari hidupnya yaitu seorang pemotong kayu.


[1] Penggiat Indonesian Leaders Training Center (ILTC) & Komunitas Leaders Club (KLC)
[2] Tim dosen FIP IKIP Malang, 1980 : 1
[3] Hasan Al Banna, Risalah pergerakan Ikhwanul Muslimin

Rabu, 03 Juli 2013

Pembangunan Yang Salah Kaprah

PEMBANGUNAN MENGGUSUR ORANG MISKIN BUKAN MENGGUSUR KEMISKINAN [1]
Oleh: Prof. Dr. Sri-Edi Swasono -- Guru Besar FE-UI Jakarta, Penasehat Menteri PPN/Bappenas, Anggota Komisi Khusus Kajian Ekonomi Pancasila
 
  1. Penanggulangan kemiskinan bukanlah upaya residual (tambah-sulam), tetapi adalah substansial. Upaya penanggulangan kemiskinan merupakan upaya pembangunan perekonomian makro menyeluruh (bukan parsial), selanjutnya dimensi makro ini membentuk jejaring upaya-upaya mikro sebagai penjabaran integral.
  2. Secara makro pemberantasan kemisikinan mengemban tugas sistemik konstitusional (normatif-imperatif) berdasar Pasal 33, Pasal 34, dan Pasal 27 (ayat 2) UUD 1945.
  3. Pasal 33 UUD 1945 menugaskan “Perekonomian DISUSUN sebagai USAHA BERSAMA berdasar atas ASAS KEKELUARGAAN". Secara normatif-imperatif Pasal 33 UUD 1945 menghendaki dilaksanakannya (1) Transformasi Ekonomi, dan (2) Transformasi Sosial.
  1. Transformasi Ekonomi berdimensi: (1) melaksanakan “demokratisasi ekonomi”; (2) mewujudkan sistem “usaha bersama” (mutualism); (3) mewujudkan “asas kekeluargaan” (brotherhood atau ukhuwah-syariah); (4) menolak “asas perorangan” (individualisme dan liberalisme); (5) mem-Pasal 33-kan KUHD (Wetbook van Koophandel) kolonial.
  2. Transformasi Sosial berdimensi: (1) menghapuskan hubungan ekonomi subordinatif (Feodalisme ekonomi, patronisasi bisnis, hubungan ekonomi predatory-exploitatory); (2) melaksanakan hubungan ekonomi participatory-emancipatory; (3) menyelenggarakan sistem ekonomi kemitraan; (4) menghapuskan sistem perhambaan dalam kehidupan sosial-ekonomi.
  3. Transformasi Ekonomi dan Transformasi Sosial menuntut perubahan pola-pikir (mindset), perilaku, aplikasi teknologi, sistem kerja dan disiplin kerja baru, dan seterusnya, sehingga membentukkan tuntutan Transformasi Budaya.
  4. “Hak Sosial Rakyat” (melalui demokratisasi ekonomi) memperoleh landasan konstitusional: (1) Pasal 27 (ayat 2) UUD 1945 menegaskan “Tiap-tiap warganegara berhak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”; (2) Pasal 34 menegaskan “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Yang kita bangun (platform ideologi) adalah rakyat, manusianya, bukan sekedar membangun GDP dan pertumbuhannya. Manusia merupakan subject-matter pembangunan nasional.
  5. Dengan demikian Target Nasional Utama sesuai pesan konstitusi (Pasal 27 ayat 2, Pasal 33, Pasal 34 UUD 1945): (1) menciptakan lapangan kerja; (2) memberantas kemiskinan; (3) mencerdaskan kehidupan bangsa: (a) melaksanakan empowerment terhadap rakyat menuju self-empowerment; (b) menghindarkan impoverishment dan disempowerment terhadap rakyat; (4) mengkaji ulang pakem trickle-down mechanism, menolak paham tentang terjadinya “trade-off” antara growth dan (re)distribution; (5) mengajukan paham “let us take care of employment and employment will take care of growth”.
Telah terbukti bahwa yang terjadi adalah: (1) trickle-up mechanism; (2) ekonomi rakyat yang low cost mendukung (mensubsidi) ekonomi besar di atasnya yang high-cost.
  1. Kantong-kantong kemiskinan Indonesia telah diungkap oleh Bappenas melalui pemetaan yang cukup ekspresif. Restrukturisasi ekonomi dalam artian reformasi makro menjadi tuntutan riil.[2]
  2. Dalam restrukturisasi ini maka alokasi dan realokasi dana-dana pembangunan menjadi sangat strategis. Empowerment, impoverishment dan disempowerment banyak berkaitan dengan alokasi dan relokasi dana pembangunan yang tidak berdasar keadilan (demokrasi ekonomi), yang menimbulkan penggusuran dan marginalisasi kelompok yang miskin, merupakan “the greater empowerment of the rich, big business and the rentiers at the cost of the underclass...” (kasus-kisah Benhil, Tanah Abang dan seterusnya, hampir di seluruh tanah air).
  3. Mengapa pembangunan menggusur orang miskin, tidak menggusur kemiskinan?
Mengapa tidak ada kesulitan lahan usaha buat mall, plaza, supermarket, hypermarket, dan semacamnya, tetapi selalu ada kesulitan lahan usaha buat K-5, sektor informal dan pasar tradisional (masih berlakunya budaya machtsstaat plus budaya predatori). Sistem ekonomi pasar-bebasnya kaum neoliberalis membenarkan persaingan bebas dengan pertarungan (firkoh) dan mengabaikan kebersamaan (ukhuwah).
  1. Mengapa Daulat Pasar menggusur Daulat Rakyat (penyelewengan dan penghambatan ideologis) secara makin poten?[3] Mengapa empowerment sering berubah menjadi disempowerment, yang mengakibatkan transfer pemilikan dan kesempatan usaha dari yang miskin dan lemah ke yang kaya dan kuat secara laten bahkan poten?
  2. Kemiskinan berdimensi sosial kultural: Sikap mental progresif dan positif bagi masyarakat miskin harus menjadi substansi pendidikan dasar dan menengah. Strategi budaya perlu lebih tandas di desain untuk mewujudkan budaya entrepreneurial, hemat (tidak konsumtif),[4] beretos kerja produktif, melepaskan dependensi, mandiri, mengemban harga diri dan percaya diri, yang seterusnya mampu membentukkan modal-sosial sebagai pelipat-ganda efektivitas modal-ekonomi.
  3. Media masa lebih banyak menyiarkan pesan-pesan ke arah pembentukan perilaku konsumtif (demonstration effect) tanpa mendahuluinya dengan pesan-pesan perilaku produktif, dengan berbagai dampak negatifnya terhadap produktivitas rakyat dan the lost of opportunity terhadap ekonomi rakyat, daya beli rakyat dan pasaran dalam negeri.
  4. Kesenjangan ekonomi menimbulkan “polarisasi ekonomi”, yang kemudian membentukkan “polarisasi sosial”, yang kaya memisahkan diri (secara sosial-kultural dan teritorial) dari yang miskin, selanjutnya terbukti memicu disintegrasi sosial.
  5. Membangun ekonomi rakyat sebagai upaya mengatasi pengangguran dan pengentasan rakyat dari kemiskinan bukan sekedar masalah pemihakan, tetapi merupakan tuntutan strategi pembangunan (people-centerad, grassroots-based, dan resources-based strategies) yang riil dan efektif langsung memberi manfaat kepada kelompok miskin.
Banyak kegiatan yang dapat dikerjakan oleh rakyat, banyak produk-produk impor yang bisa dibuat oleh rakyat, suatu “business-map” untuk rakyat miskin dan menganggur dapat didesain secara riil dan nyata (kita per tahun mengimpor beras 3,7 juta ton, gula 1,6 juta ton, kedelai 1,3 juta ton, gandum 4,5 juta ton, jagung 1,2 juta ton, sapi 560.000 ekor, kambing1,2 juta ekor, tepung telor 30.000 ton, susu bubuk 140.000 ton, garam 1,5 juta ton, singkong 850.000 ton, kacang tanah 100.000 ton, makanan olahan US$ 1,5 milyar, tidak terhitung buah-buahan dan lain-lain yang semuanya bisa ditangani oleh para penanggur terutama di sektor ekonomi rakyat). Restrukturisasi (antara lain alokasi dana pembangunan) menjadi syarat utamanya, pasar bebasnya para market-fundamentalists dan lemahnya nasionalisme ekonomi[5] adalah halangannya.
  1. Orang-orang lapangan yang berpengalaman dalam memahami berbagai bentuk kemiskinan dan penanggulangan-penanggulangannya perlu dikumpulkan di sini. Saya melihat beberapa tokoh telah diundang tetapi belum semuanya (termasuk yang mendapat pengakuan dan penghargaan internasional).
Kita perlu bertanya kepada mereka, mengapa terjadi kasus-kasus kepapaan pada musim-musim tertentu secara rutin, laten, dan berkesinambungan. Tetapi mengapa pula sekali-kali bisa muncul kasus self-empowerment mengejutkan membedah helplessness dan tradisi apatis? Ini perlu menjadi objek penelitian strategis (saya telah ajukan ke Bappenas). Program nasional listrik masuk desa telah berhasil menggerakkan stagnasi kultural, perlu diikuti oleh program-program nasional lain semacamnya.
  1. Sering Pemerintah/Pemda menganggap dirinya sepenuhnya mewakili “kepentingan publik”. Kepentingan publik dapat dianggap identik dengan kepentingan Pemerintah/ Pemda hanya apabila ada “clean and good governance”.
  2. Perencanaan Pembangunan Nasional harus bertitik-tolak dari membangun manusianya, dalam rangka membangun rakyat, bangsa dan negara

Selasa, 02 Juli 2013

Belajarlah untuk Mengenal Lebih Baik

Nasihat salah seorang dosen biologi UNJ untuk sebuah organisasi:

harus ada orang (pemimpin) yang mampu mmenggerakan semua anggota untuk sering berkumpul, sharing, beraktivitas, bergerak bersama dalam aktivitas sehingga antar anggota "saling mengenal" dan "berempati" sebgai suatu komunitas. Saya lihat kalian selama ini hanya "mengenal nama" satu sama lain, tidak mengenal sebagai pribadi atau "personal", kata lainnya kalian terlau "garing". kayaknya era kalian dimana orang sibuk ngurus nasib dirinya sendiri, semua berlomba ngambil SKS sebanyak-banyaknya agar cepet lulus, sehingga minim sekali waktu bersosialisasi sencara nyata, kehidupan kalian banyak didunia maya atau virtual, jadi akhirnya ya tadi.. kalian berkomunitas cenderung banyak secara virtual "semu", baik di FB, tweeter, blog, watshapp... contohnya setiap program atau ada masalah organisasi, kalian hanya ramai atau lebih sibuk secara virtual, sehingga kurang ada "chemistri" . Chemistri disini saya artikan sebagai rasa tanggung jawab, saling pecaya dan mendukung, berbagi peran dan saling memberi support, dan lain-lain ....
From : Rahman Fadli (Ketua MTM UNJ 2013)

Tipe Darah

Di Jepang, ramalan tentang
seseorang lebih ditentukan oleh golongan darah
daripada zodiak atau shio. Kenapa? Katanya,
golongan darah itu ditentukan oleh protein-
protein tertentu yang membangun semua sel di
tubuh kita dan oleh karenanya juga menentukan
psikologi kita.

SIFAT SECARA UMUM :

A : Terorganisir, konsisten, jiwa kerja-sama
tinggi, tapi selalu cemas (krn perfeksionis) yg
kadang bikin org mudah sebel, kecenderungan
politik: ‘destra’
B: nyantai, easy going, bebas, dan paling
menikmati hidup, kecenderungan politik:
‘sinistra’
O : berjiwa besar, supel, gak mau ngalah, alergi
pada yg detil, kecenderungan politik:
‘centro’
AB : unik, nyleneh, banyak akal, berkepribadian
ganda, kecenderungan politik

Yg paling gampang ngaret soal waktu
1 B (krn nyantai terus)
2 O (krn flamboyan)
3 AB (krn gampang ganti program)
4 A (krn gagal dalam disiplin)

Yg paling susah mentolerir kesalahan
org :
1 A (krn perfeksionis dan narsismenya terlalu
besar)
2 B (krn easy going tapi juga easy judging)
3 AB (krn asal beda)
4 O (easy judging tapi juga easy pardoning)

Yg paling bisa dipercaya :
1 A (krn konsisten dan taat hukum)
2 O (demi menjaga balance)
3 B (demi menjaga kenikmatan hidup)
4 AB (mudah ganti frame of reference)

Yg paling disukai utk jadi teman :
1 O (orangnya sportif)
2 A (selalu on time dan persis)
3 AB (kreatif)
4 B (tergantung mood)

Kebalikannya, teman yg paling disebelin/
tidak disukai:
1 B (egois, easy come easy go, maunya sendiri)
2 AB (double standard)
3 A (terlalu taat dan scrupulous)
4 O (sulit mengalah)

MENYANGKUT OTAK DAN KEMAMPUAN

Yg paling mudah kesasar/tersesat
1 B
2 A
3 O
4 AB

Yg paling banyak meraih medali di
olimpiade olah raga:
1 O (jago olah raga)
2 A (persis dan matematis)
3 B (tak terpengaruh pressure dari sekitar.
Hampir seluruh atlet judo, renang dan gulat
jepang bergoldar
4 AB (alergi pada setiap jenis olah raga)

Yg paling banyak jadi direktur dan
pemimpin:
1 O (krn berjiwa leadership dan problem-
solver)
2 A (krn berpribadi ‘minute’ dan teliti)
3 B (krn sensitif dan mudah ambil keputusan)
4 AB (krn kreatif dan suka ambil resiko)

Yg jadi PM jepang rata2 bergolongan
darah :
1 O (berjiwa pemimpin)

Yg paling gampang nabung :
1 A (suka menghitung bunga bank)
2 O (suka melihat prospek)
3 AB (menabung krn punya proyek)
4 B (baru menabung kalau punya uang banyak)

Yg paling kuat ingatannya:
1 O
2 AB
3 A
4 B

MENYANGKUT KESEHATAN:

Yg paling panjang umur :
1 O (gak gampang stress, antibodynya paling
joss!)
2 A (hidup teratur)
3 B (mudah cari kompensasi stress)
4 AB (amburadul)

Yg paling gampang gendut:
1 O (nafsu makan besar, makannya cepet lagi)
2 B (makannya lama, nambah terus, dan lagi
suka makanan enak)
3 A (hanya makan apa yg ada di piring,
terpengaruh program diet)
4 AB (Makan tergantung mood, mudah kena
anoressia)

Yg paling gampang flu/demam/batuk/
pilek:
1 A (lemah terhadap virus dan pernyakit
menular)
2 AB (lemah thd hygiene)
3 O (makan apa saja enak atau nggak enak)
4 B (makan, tidur nggak teratur)

Yg tidurnya paling nyenyak dan susah
dibangunin :
1 B (tetap mendengkur meski ada Tsunami)
2 AB (jika lagi mood, sleeping is everything)
3 A (tidur harus 8 jam sehari, sesuai hukum)
4 O (baru tidur kalau benar2 capek dan
membutuhkan)

Yg paling cepet tertidur:
1 B (paling mudah ngantuk, bahkan sambil
berdiripun bisa tertidur)
2 O (Kalau lagi capek dan gak ada kerjaan mudah
mengantuk)
3 AB (tergantung kehendak)
4 A (tergantung aturan dan orario)

Penyakit yg mudah menyerang :
A (stress, majenun/linglung)
B (lemah terhadap virus influenza, paru-paru)
O (gangguan pencernaan dan mudah kena sakit
perut)
AB (kanker dan serangan jantung, mudah kaget)

Apa yg perlu dianjurkan agar tetap
sehat :
A (Krn terlalu perfeksionis maka nyantailah
sekali-kali, gak usah terlalu tegang dan serius)
B (Krn terlalu susah berkonsentrasi, sekali-kali
perlu serius sedikit, meditasi, main catur)
O (Krn daya konsentrasi tinggi, maka perlu juga
mengobrol santai, jalan-jalan)
AB (Krn gampang capek, maka perlu cari
kegiatan yg menyenangkan dan bikin lega).

Yg paling sering kecelakaan lalu lintas
(berdasarkan data kepolisian)
1 A
2 B
3 O
4 AB

sumber aslinya Japan SS, From : Respati Octaviani (Korput BEM-SI 2011-2012)

Senin, 13 Mei 2013

Trilogi Islam, Pancasila dan Nasionalisme



“Apa Masalahmu”
Saat Nasionalisme mengaburkan agamamu
Oleh : Roby Tri Wahyudi[1]

            Arus globalisasi yang terus berjalan dari wakyu ke waktu dengan begitu banyak kemajuan di bidang teknologi serta ilmu pengetahuannya telah deras melingkupi seluruh negara yang ada didunia ini. Tak ada jarak antara satu negara dengan negara lain sehingga seluruh akses serta peristiwa dapatlah kita ketahui melalui berbagai perantara media elektronik dan cetak yang serba deras yang ada disekitar kita. Pada dasarnya setiap negara yang hadir serta terbentuk sebagai negara berdaulat tidaklah terlupakan akan sejarah panjang berdirinya negara tersebut. Ada berbagai paham dan ideologi yang muncul sebagai bentuk dari ruh pergerakan yang membawa pada satu tujuan yaitu kemerdekaan dan kebebasan. Setiap negarapun memiliki karakteristik pahamnya sendiri. Seperti kita ketahui banyak ideologi yang hadir Dimuka bumi ini terpaksa diperkenalkan baik untuk melakukan perlawanan terhadap gerakan kolonialisme dan imperialisme maupun sengaja dikenalkan guna melakukan ekspansi hegemoni dan ambisi menjadi negara adikuasa. Salah satu paham yang sangat terkenal ialah paham nasionalisme.
            Nasionalisme merupakan paham yang meletakkan kesetiaan tertinggi individu yang harus diberikan kepada negara dan bangsanya, dengan maksud bahwa individu sebagai warga negara memiliki suatu sikap atau perbuatan untuk mencurahkan segala tenaga dan pikirannya demi kemajuan, kehormatan dan tegaknya kedaulatan negara dan bangsa[2]. Pengertian tersebut telah banyak diperkenalkan serta disebarluaskan sehingga suatu negara memiliki satu ikatan emosional yang sangat kuat ketika keberadaan negaranya mulai terancam dari hal-hal yang mengganggu harkat, martabat, dan kebudayaan satu bangsa.
            Kita perlu mengingat bagaimana gerakan Nasionalisme berkembang diberbagai belahan dunia seperti Amerika ketika terjadi peperangan saudara, paham dengan menitik beratkan pada satu loyalitas yang tinggi dan besar terhadap bangsa dan negara mampu menyatukan kulit hitam dan kulit putih yang ada di sana. Di India kita mengenal gerakan Gandhi yang begitu populer dalam memerangi penjajahan Eropa, di Turki sang attaturk mempelopori gerakan nasionalisme demi menyelamatkan Turki dari kehancuran, di Cina Sun Yat Sen, pelopor gerakan nasional Cina yang mengajarkan Sun Min Chu I (tiga asas kerakyatan), yaitu Min Chu (nasionalisme), Min Chuan (demokrasi), dan  Min Shen (sosialisme). Gerakan nasional Cina berhasil mengusir Inggris serta melahirkan Republik Cina, serta gerakan nasionalisme lainnya.
            Banyaknya gerakan nasionalisme yang bermunculan dengan berbagai kadar dan tingkat frekuensi semangat penjiwaan nampaknya ada yang salah dalam pandangan kita sebagai seorang muslim. Masalah tersebut hadir ketika paham nasionalisme mampu mengalahkan eksistensi keberadaan agama, bahkan menghilangkan agama yang merupakan satu fitrah manusia yang mampu menembus dimensi vertikal dan horizontal kita. Segala petunjuk kehidupan serta hakikat sebagai manusia yang hidup diajarkan melalui Dien ini dengan sempurnanya, lantas mengapa begitu banyak umat beragama mengesampingkan hukum agama dibandingkan semangat nasionalisme?
            Sebagai seorang muslim hendaknya kita menyadari bahwasanya sejarah mengatakan nasionalisme muncul awalnya sebagai pemersatu bangsa yang kala itu terjadi satu diskriminasi dan konflik hebat serta penjajahan yang tak bertanggungjawab. Semua sepakat atas dasar persamaan wilayah, suku, bahasa, serta kondisi membuat semuanya bersatu hanya untuk satu hal yakni kemerdekaan dari segala bentuk koloni. Jauh setelah islam hadirlah nasionalisme muncul namun membawa satu misi yang tak seindah awal kemunculannya. Begitu banyak kepentingan yang menyusup atas nama nasionalisme, syekh Ali Thantawi mengatakan bahwa “nasionalisme sudah menjadi ‘benda usang’. Dunia kini tidak lagi dipecah-belah oleh paham nasionalisme akan tetapi oleh ideologi. Kita dapat melihat ideologi ‘kiri’ telah mampu menyatukan Rusia, Yugoslavia, Kuba, Cina, dan bangsa-bangsa yang lain. Namun dalam hal ini Islam telah lebih dahulu melangkah, saat menjadikan ideologi bahkan nasab, dan bahasa sebagai alat pemersatu”[3].
            Telah begitu banyak peristiwa yang mengatasnamakan nasionalisme yang berkembang disekitar kita, dalam hemat saya hal ini merupakan satu bentuk dari pelunturan dan pengaburan nilai-nilai Islam yang dilakukan oleh musuh-musuh islam, padahal Allah telah mengatakan di dalam Al-Quran “Orang-orang yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar....”[4]. Kondisi inilah yang menjadi satu peringatan bagi kita Dimana media dan kecanggihan teknologi melalui sarana internet serta program di televisi gencar melakukan pengaburan terhadap eksistensi nilai islam. Aliran serta paham ideologi yang merusak keimanan dan keyakinan kita begitu dahsyat menghantam seperti gerakan Sekulerisme, Liberalisme, Komunisme, Sosialisme, Feminisme, Fasisme serta yang lainnya menjadikan kita berada pada satu periode perang dingin yang tak lain dan tak bukan sering kita sebut dengan “perang pemikiran”.
            Menurut paham nasionalisme, kepentingan bangsa mengatasi semua kepentingan, termasuk kepentingan agama. Masalah nasionalisme juga menyangkut masalah prinsip, metode, dan sekaligus tujuan satu bangsa. Akibatnya bermunculan kehidupan yang berwarna nasional mulai dari kebudayaan nasional, wawasan nasional, kerukunan nasional, makanan nasional dan lainnya[5]. Maka secara praktis akan menggusur identitas keislaman seorang muslim dari seluruh sektor kehidupan. Setiap yang berbau islam dianggap anasional, bertentangan dengan kepentingan nasional dan patut dimusuhi dan disingkirkan demi menjaga keutuhan nasional.
            Oleh karena itu hendaknya kita dapat memahami betapa pentingnya kembali kepada ajaran Islam yang benar dan kaffah, sesuai dengan Al-Quran dan sunah serta tuntunan teladan Rasulullaah Muhammad SAW. Masalah sebenarnya ada dalam diri kita yang mencampur adukkan hal diluar dari Islam ditambah kemauan kita untuk memperdalam dan mengamalkan ajaran Islam masih jauh dari yang diharapkan. Hal inilah yang menjadi tanda tanya besar mengapa kita mendikotomikan islam dan nasionalisme, Dimana dan apa masalahmu sebenarnya?  


[1] Penggiat ILTC (Indonesian Leaders Training Center), Ka.BEM Universitas Negeri Jakarta 2012
[2] www.wikipedia.org
[3] Thantawi Ali, 1998. Fatwa-fatwa terpopuler Ali Thantawi. Solo : Era intermedia
[4] Qs.Al-Baqarah 120
[5] LDK UNJ, Panduan Mentoring. 2010 bab Gozwul Fikr